Rasa Nomer 69

||Catatan ini saya tulis 04 November 2011 dimana pada saat itu saya masih nganggur dan seminggu setelahnya baru memburuh. life. ehehek.||


..........

Mendung dan nganggur. Sama-sama suram dan dan menunggu datangnya berkah Tuhan. Mendung menunggu berkah hujan dan nganggur menunggu berkah pekerjaan. Hehe.

Berapa coba jumlah penganggguran di Indonesia? Emm, terus ditambah aku (satu). Kalau jumlahnya sebelum aku nganggur itu ada semilyar, jadi ditambah aku sama dengan semilyar satu. Heu.

Senin 01 November 2011 lalu, lahirlah seorang bayi ke-tujuhmilyar di dunia. Itu adalah jumlah yang tercatat oleh pemerintahan, sementara di dunia ini banyak sekali bayi yang nggak tercatat, bukan begitu? Bukan salah bayi yang jelas. Kalau kata film “Jamilah sang presiden”, tidak ada bayi yang terlahir kotor di dunia ini, namun dunia dan seisinya terlampau mudah membuat bayi itu menjadi kotor.

Nah, si bayi ke-tujuhmilyar itu. Entah harus disambut dengan apa? Bahagia? Atau prihatin (kata pak Beye). Jadi gini, kemarin itu anaknya ibuk kos’ku nglahirin seorang bayi tanpa dosa, perempuan. Entah itu bayi yang ke berapa milyar. Nah, karena itu aku dan temanku beli perabot ato apa kek gitu yang bisa dijadiin kado buat si dedek bayi itu. Pergilah kami ke sebuah supermarket, Giant (bukan nama sebenarnya). Banyak sekali barang yang lucuuuuuu cekali. Ini dia potonyah :



Beberapa saat, saya mikir untuk sesegera mungkin beranak. Punya bayi maksutnya. Karena sungguh ketika melihat barang-barang itu jadi nggak mau pulang, pengen beliin semuanya tapi nggak punya duit jugasi. Hehe.

Nah tapi, sepulang dari belanja peralatan bayi dan nongton. Saya jadi mikir lagi, yang kek-kek gitu kan Cuma bisa dibeli sama orang tua beduit. Dan tentu saja dimiliki sama bayi dengan orang tua berlimpah materi. Lalu, bagaimana dengan bayi-bayi lain yang orang tuanya itu pengangguran kek saya ini? Yang untuk makan saja harus diatur sedemikian rupa, bagaimana untuk susu, baju, blanket (selimut maksute), mainan, dot yang lucu, kaos kaki lucu, dan thethek-bengek yang serba lucu itu, untuk makan sehari-hari saja suuulit. Aduh kesian juga bayinya. Mungkin susu masih bisa dipenuhi dengan susu ibu, tapi yang lainnya yah seadanya saja. Makanya si sekjen pbb itu pesimis menyambut kelahiran si bayi ke-tujuh milyar ye.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Haru

Rasa Nomor 80

Rasa Nomor 91