Rasa Nomer 72
Sebagian orang di ibu kota saling memaki. Tak ada yg mau disalahkan,
mereka menganggap dirinya paling benar. Saya nggak paham kapan dimulainya
dan kapan berakhirnya. Sore ini, seorang supir metromini memaki dua
pemuda SMA yang menyebrang tak hati-hati, hampir saja mereka tersenggol
body depan metromini, tapi tidak jadi, si supir nge-rem mendadak diikuti makian dari dua
bocah yang akan ditabrak. Dua bocah menyebrang semaunya dan supir metromini kebut-kebutan dengan brutalnya. Selanjutnya, metro melaju dengan tergesa, ada kawan bernomor
sama di belakangnya, ia cepat-cepat, tak mau didahului. Di depan, ada
seorang bapak dengan vespa, berumur kepala lima kira-kira, metromini menghimpit vespa hingga vespa
hampir menyentuh canstin median jalan. Pemilik vespa memaki, si supir
balik memaki, ia tetap tak ingin didahului, sedang kawannya--metromini
lain dengan nomor sama--berkeras mendahului yang berarti jelas memakan jatah jalan lebih banyak. Itu mereka bilang berebut rizki, mungkin mereka lupa, mereka bawa nyawa orang yang punya orang-orang tersayang. Lalu, vespa pun terhimpit metromini lain berhasil laju lebih dahulu.
Pemilik vespa memaki supir, kemudian supir memaki, mereka sama-sama kesal. Vespa
kesal karena terjepit, supir metromini kesal karena didahului metromini lain.
Sebenarnya hanya raut dan gerak mulut yang saling ditangkap, ucap ataupun suara sama sekali tak terdengar. Sore ini, Jakarta memaki dalam sunyi, lalu saya mengetik dan melanjutkan memburuh. Hidup.
Sebenarnya hanya raut dan gerak mulut yang saling ditangkap, ucap ataupun suara sama sekali tak terdengar. Sore ini, Jakarta memaki dalam sunyi, lalu saya mengetik dan melanjutkan memburuh. Hidup.
Welcome to ibu kota by the way :))
BalasHapusHidup di ibu kota memang keras Bu #tsaaah ;D
kalo hidup di hatimuu?? #eaaaa
Hapus