Haru, datang tak seperti rasa lainnya. Setidaknya begitu bagi saya. Ingatan saya merunut, apakah ada jenis rasa yang mampu menyergap tiba-tiba selain haru? Kangen atau rindu misalnya, kan tak hadir sekonyong-konyong seperti yang dilakukan haru. berpangkal dari growong karena ada yang biasa hadir lantas absen, maka berbuahlah kangen. Girang atau sedih, juga datang karena rentetan kejadian yang menyenangkan atau sebaliknya, bukan? Sedangkan haru, saya kira ia salah satu rasa yang munculnya mengagetkan. Sangat lekas tapi juga membekas. Jumat sore nyaris gelap, haru menubruk, setelah mengunyah bakso lantas menyeruput campuran kopi, rum dan cokelat. Sesaat kelar membaca pesan pendek yang masuk ke telepon genggam saya, kelopak mata begitu saja menghangat. Air sudah berkubang di pinggiran kantung mata, sebentar lagi tumpah, saya mendongak. Di tengah banyak orang, ditambah warung kopi yang sedang ramai-ramainya, agak musykil menuruti kerja tubuh saya. Saya menolak mena...
nomer 1 bukan yang istimewa. satu sama saja dengan nomer-nomer setelahnya, mereka hanya berbeda posisi dan rasa saja. akankah ada nomer yang istimewa? wah aku belum bisa menjawabnya. kubuat nomer 1 sebagai pembuka saja. semoga kita bisa bertukar banyak hal di nomer-nomer rasa berikutnya. oh iya, nomer-nomer ini hanya racauanku semata. aku tak pandai menulis, tak piawai merangkai kata, dan tak punya ide istimewa. ini hanya salah satu usahaku menarik perhatian kata-kata, menikahinya, lalu kelak akan melahirkan anak kata-kata. terdengar seperti keluarga yang bahagia kan. hekhek. selamat berkembangbiak kata-kata :) (gambar : online store)
Malam itu, Senin, saya masih ingat betul, 24 Oktober 2012. Saya ingin menulis di blog ini lewat telepon genggam saya, namun gagal. Padahal hanya satu kalimat yang ingin saya tulis malam itu, sungguh-sungguh ingin saya tulis: Mendadak, saya mulai tidak percaya dengan apapun juga siapapun kecuali ibu saya.
Komentar
Posting Komentar