Haru, datang tak seperti rasa lainnya. Setidaknya begitu bagi saya. Ingatan saya merunut, apakah ada jenis rasa yang mampu menyergap tiba-tiba selain haru? Kangen atau rindu misalnya, kan tak hadir sekonyong-konyong seperti yang dilakukan haru. berpangkal dari growong karena ada yang biasa hadir lantas absen, maka berbuahlah kangen. Girang atau sedih, juga datang karena rentetan kejadian yang menyenangkan atau sebaliknya, bukan? Sedangkan haru, saya kira ia salah satu rasa yang munculnya mengagetkan. Sangat lekas tapi juga membekas. Jumat sore nyaris gelap, haru menubruk, setelah mengunyah bakso lantas menyeruput campuran kopi, rum dan cokelat. Sesaat kelar membaca pesan pendek yang masuk ke telepon genggam saya, kelopak mata begitu saja menghangat. Air sudah berkubang di pinggiran kantung mata, sebentar lagi tumpah, saya mendongak. Di tengah banyak orang, ditambah warung kopi yang sedang ramai-ramainya, agak musykil menuruti kerja tubuh saya. Saya menolak mena...
Malam itu, Senin, saya masih ingat betul, 24 Oktober 2012. Saya ingin menulis di blog ini lewat telepon genggam saya, namun gagal. Padahal hanya satu kalimat yang ingin saya tulis malam itu, sungguh-sungguh ingin saya tulis: Mendadak, saya mulai tidak percaya dengan apapun juga siapapun kecuali ibu saya.
Saya ika, nama lengkap saya Nurika Naulie Faizah. Dari nama mungkin sudah bisa kelihatan bahwa saya muslim, karena bapak saya memberi saya nama yang kearab-araban. Sebetulnya pengantarnya ini nggak ada hubungannya sama isi postingan saya sih. Gejee. Bergaul dengan kawan-kawan yang sama-sama suka seni, akhirnya saya mengenal Taman Ismail Marzuki, Goethe Institute, Galeri Nasional, Salihara dan gedung pertunjukan lainnya. Yang kedua terakhir, Salihara, kebetulan intensitas saya berkunjung ke sana lebih sering. Dan karena itu pula saya dibilang teman saya--sebut saja Adil-sebagai orang liberal. Apakah kamu tahu Jaringan Islam Liberal? Ya, saya digolongkan ke dalam kelompok itu. Padahal ikut kajiannya aja nggak pernah. Yacumak ngevolo Guntur Romli, Ulil pun yang dedengkotnya JIL nggak saya volo. Karena saya nggak suka tuh sama twitnya, ehehe. Sebetulnya tidak jadi masalah sih orang mau bilang saya ini Liberal, sekuler, . Mau bilang saya JIL atau anti-JIL. Toh nggak ada...
Komentar
Posting Komentar