Ketika saya masih punya kawan ngobrol ngalor-ngidul dan membicarakan apapun tentang kami, di luar kami, atau hal-hal absurd lain, pertanyaan-pertanyaan yang tidak didahului konteks dan begitu saja tercetus seringkali muncul. Kadang-kadang dari saya, lebih banyak dari kawan saya. Meski kerap didahului dengan 'apaan sih', tapi kami berdua, entah kenapa, sama-sama menjawab, membicarakan jawaban itu panjang lebar dan, bisa jadi topik tersendiri yang kalau dijadikan talkshow bisa kali enam atau lima segmen. Ya, sejam atau dua jam, begitu? Panjang memang. Setelah saya ingat lagi sekarang, kenapa bisa betah ya? Salah satu pertanyaan yang pernah lintas adalah: Apakah pertanyaan terpenting yang harus dijawab manusia? Apa coba? Kawan saya menjawab, bisa jadi: Siapa aku? Siapa kamu? Apa itu manusia? Ada juga jawaban lain: Bagaimana cara kamu bertahan hidup dari penderitaan--demi penderitaan? Jawaban boleh apa saja, tentu saja.
Pertama kali Arsitektur Lanskap di Institut Pertanian Bogor (IPB) berdiri , dipelopori oleh Zain Rachman, Ahmad Surkati dan Saleh Idris. Kami dulu tidak boleh memakai kata Lanskap, karena penggunaan kata lanskap hanya diperbolehkan saat jurusan itu ada di bawah naungan Fakultas T eknik. Sedangkan kami saat itu (dan kini) berada di bawah Fakultas Pertanian. Maka kami diminta menggunakan kata Pertamanan, jadilah jurusan Arsitektur Pertamanan. Pertama kali , jurusan Arsitektur Pertamanan di buka pada 1965, salah satu mahasiswanya adalah Prof esor Suraini Djamal, yang sekarang berada di Universitas Trisakti. Mulai dari awal terbentuk jurusan ini—mungkin dulu disebutnya program studi-- mahasiswanya hanya tiga orang . K emudian menjadi 12 orang, lalu bertambah lagi menjadi 25 - an . Kemudian menjadi 40-an. Dan pada 2005 sudah mencapai 60-an . K emudian , bukan hal yang mengejutkan jika sekarang bertambah lagi menjadi 89 Mahasiswa . Setidaknya dua paragraf di atas yang saya...
Saya, enggak punya waktu buat sedih-sedihan atau mellow-melowan nggak jelas. Saya juga nggak punya banyak waktu untuk memikirkan, berapa duit yang harus saya sisihkan buat jalan-jalan. Lalu kota mana yang akan saya tuju untuk menghilangkan penat padatnya kerjaan. Saya, hanya punya waktu untuk memikirkan bagaimana hidup saya terus. Bagaimana cara berdiri setelah jatuh. Bagaimana mempuk-puk diri sendiri ketika nelangsa. Dan bagaimana mengusap air mata ketika tiba-tiba menetes tak sengaja. Namun kadang saya menyempatkan, mencuri sedikit buat hal yang sia-sia. Seperti diam saja, mengamati sosial media, membalasi satu per satu, curhat di ruang 140 karakter, dan banyak hal yang membuat orang lain tahu keadaan saya. Sebenarnya di balik itu semua, saya hanya pengen cerita, tapi nggak tahu ke siapa. Setiap kali bercerita, atau hendak memulai cerita, yang ada di hadapan saya hanya sepasang mata yang tiba-tiba punya penilaian terhadap saya, terhadap apa yang saya ceritakan. Lalu punya j...
Komentar
Posting Komentar