Teman Sarapan
Saya sedang merampungkan membaca kumpulan cerita pendek sembari menandaskan kopi hotel--yang tentu rasanya tak keruan--ketika Ongen menghampiri.
"Sarapan dulu, Bung. Ngopi."
Lelaki usia 40an itu tak langsung duduk, ia menuju meja prasmanan. Kembali ke meja saya, dengan sepiring nasi juga lauk. Pagi itu saya tak sarapan, tak biasa sarapan memang. 30 menit pertama obrolan kami hanya basa-basi dan seputar apa saja rencana hari itu.
Hingga ia bertanya tentang asal saya. Lalu mengetahui bahwa saya perantau. Dan selanjutnya, karena saya mengenakan jilbab, tentu ia menganggap saya merayakan lebaran. Di situlah mula kami bercerita soal lebaran, soal konflik--yang kemudian digiring ke arah antar-pemeluk agama--pada 1998 hingga, ketakutan anaknya mengetahui kebenaran demi kebenaran.
Kebenaran memang saringkali menyakitkan, menjengkelkan, kelewat pait buat diterima. Tapi begitulah.
Ia lantas mengisahkan, Ambon, kota kelahirannya itu tak seseram bayangan para pendatang. Meski memang ia mengakui, darah sebagaian orang di kota itu gampang 'panas'. Darahnya gampang panas. Mendidih. Kata dia, mudah dihasut. Dan, ia tahu sejak dulu bahwa sumbu amarah diciptakan lebih pendek ketimbang tali kesabaran.
Itu pula yang menurutnya bikin Ongen entheng saja menebas leher lawan tarung.
"Siapa anak muda yang tak mudah dikompor-kompori?" kata dia pada saya, seperti perlu untuk diyakinkan. Saya menjawab dengan antusias menyimak.
"Tanpa kami tahu duduk perkara, langsung tho, yang penting maju duluan," sambung dia lagi menceritakan kejadian di Terminal Batumerah. Saat itu ia baru lulus SMA. Tak tahu ada ribut-ribut apa di terminal, tak jelas, tapi darah Ongen muda umub. Pertarungan pun ia lakoni.
Ongen bahkan pernah berlumur darah lawan, sering melihat kepala atau badan-tanpa-kepala, tidur di truk penuh dengan mayat, sampai tak tidur berhari-hari karena perang.
Setelah semua berlalu ia lantas bertanya untuk apa semua itu. Kepada saya ia bercerita tentang, betapa tak habis pikirnya ia saat itu.
Ongen mengaku menyesal. Dan ia tak mau anaknya tahu. Tak mau anaknya tahu masa lalunya. Ketika tak sengaja obrolan mengarah ke anak-anaknya, mata Ongen berkaca.
"Saya belum siap bercerita."
******
Saya tak mengerti kenapa Ongen mau mengisahkan pengalaman buruk itu pada saya, di waktu sarapan pula. Sebetulnya saya masih punya banyak pertanyaan dan, bersedia mendengar lebih panjang. Tapi percakapan dan ceritanya terhenti ketika kawan saya datang.
"Berapa yang kamu bunuh?" tanya kawan saya itu menyelak. Tak sopan, pikir saya.
Ongen tak menjawab. Ia membuang matanya ke piring nasi. Saya, membuka kembali buku yang tadinya sudah saya tutup. Membaca huruf demi huruf yang, kemudian tak lagi saya mengerti artinya.

Komentar
Posting Komentar