Postingan

Rasa Nomor 124

Gambar
kamboja, captured by me Hari hampir subuh, saya belum juga tidur ketika menemukan potongan kisahmu tepat saat kantuk mengajak berangkat. Mata pun kembali terjaga, batu di gelas tlah mencair, kemudian saya membakar daun yang tersisa. Mendapati kau lagi di tengah tumpukan tenggat yang belum juga rampung adalah hal yang menyebalkan. Apalagi kau tak hadir sendirian. Jauh sebelum ini saya sadar, apa yang pernah saya miliki kelak bisa saja pergi jika tak baik saya merawatnya. Ini berlaku untuk benda-benda kesayangan, atau juga sebuah hubungan. Seperti biasa, karenanya saya selalu menyalahkan segala rutinitas maha brengsek yang melelahkan. Tapi sebenarnya saya paham, kekeliruan ada pada saya yang tak cakap mengatur waktu. Dan ketika saya mengerti, ketika itu pula rupanya saya tlah kehilangan. Saat itu juga, ada yang tertahan di pangkal tenggorokan. Biasanya diikuti air yang melewati pipi, kadang ia juga menyusuri pinggiran hidung. Hari hampir subuh, Yansanjaya--musis...

Rasa Nomor 123

Gambar
Pledoi.   Sebuah karya di sebuah pameran. Lupa yang bikin siapa :| Captured by me “kamu menyedihkan, masih muda tapi serius sekali,” Seorang mbak-mbak menyatakan keprihatinan untuk saya, di sebuah warung makan di pojokan gang. Pada sebuah jamuan sore itu, dengan air muka yang nyaris seperti saat presiden ke-6 kita menyatakan keprihatinannya, tapi minus kantung mata yang besar. Kantung mata mbak-mbak itu biasa saja. Lalu pernyataan itu dibarengi dengan bonus sunggingan senyum dari salah satu sudut bibirnya. Saya sih bisa mengajaknya ngobrol lebih panjang soal definisi serius, atau bagaimana menghadapi hidup bagi saya, atau tetek bengek tentang hidup saya dan hidup dia yang tak bisa serta merta dibandingkan, atau bahwa jalan yang ditempuh manusia itu berbeda, atau tentang kacamata dan cara pandang. Tapi mengingat akhir-akhir ini saya sedang sensitif—baca: senggol bacok--, maka dengan penuh kesadaran, saya memilih menahan diri. Saya menanggapi perempuan ber...

Rasa Nomor 122

Gambar
Pada sebuah bulan ketiga *** “Lo tahu nggak? Ternyata dua minggu kemarin gue stress berat,” Seorang teman mengatakannya kepada saya, dengan energi mendekati 90 persen. Antara kesal dan antusias. Saya menangkap ada kelelahan sekaligus daya di sana. Itulah. Sebuah “obrolan” ringan di sela memburuh, jika tak boleh disebut curahan hati. Kemudian saya menimpali, itu sebabnya saya memilih cepat-cepat ambil cuti. Indikatornya sudah jelas: saya sariawan. Dia menanggapi jawaban saya dengan menaikkan alis. Sebelum dia bertanya, saya mendahului untuk menjelaskan. Kebiasaan saya adalah mengukur tingkat kesetresan dengan sejumlah tanda-tanda. Karena memang bagi saya, ada bagian tubuh tertentu yang lebih peka. Ini juga terjadi dengan benda-benda di sekitar kita lho, menurut saya. Di sekitar kita itu ada saja yang lebih peka, mereka memberikan respon lebih dari yang lain, menjadi perantara, tanda-tanda. Salah satunya lewat sariawan, setiap kali mengalami itu, saya mengartikan...

Rasa Nomor 121

Gambar
Ini hari, saya memulai terapi (terapi bukan ya ini namanya?), eng.. untuk memperbaiki siklus tidur saya yang belakangan makin kacau. Apalagi semenjak jadwal memburuh saya dirotasi dari pagi ke siang hari. Akibatnya saya jadi terbiasa tidur pagi, sekitar pukul 5, 6 atau 7 pagi baru bisa tidur. Bahkan pernah saya kebingungan lantaran sampai pukul 9 masih melek alias tak bisa merem. Kenapa bingung? Karena kan kalau tak tidur, bisa-bisa saya lemah-letih-lesu pas jam memburuh—pukul 14. Akhirnya waktu itu, biar bisa bobok saya baca buku tapi tetap tak mengantuk, lalu gonta ganti posisi tidur, e tak tahu tiba-tiba saja saya tertidur dan bangun lagi sekitar pukul 12. Syukurlah ya. Nah, karena kekacauan siklus tidur, saya jadi kehilangan pagi. Karena pagi hari sibuk mengurusi bagaimana cara tidur atau kalau nggak ya sudah molor. Tak cuma itu, akhirnya saya juga susah lari. Lari dari kenyataan. Yak, bukanlah. Lari pagi maksudnya. Terus, jadi nggak bisa dengerin acara radio pagi yang...