Rasa Nomer 18
...Galeri nasional suatu ketika (hehe ;p)
Siang sembilan Januari 2011, bersalam sapa lagi dengan kereta listrik ac-ekonomi limaribulimaratus padahal kemarin sudah tujuribu. Ah dasar labil, maklum masih remaja, hehe. Kami yang berenambelas ini kemudian dengan gagah menjejakkan kaki ke ibu kota. Sampai kira-kira pukul 20.30 yang tersisa tinggal dua!! Du-A. Ya, satu ditambah satu. Aku ditambah adik tingkatku, Jihan. Bagaimana bisa? Ya tentu saja bisa, hidup itu penuh dengan kemungkinan bung, hihi. Teman-teman yang lainnya ada keperluan dan memang kereta terakhir malam itu pukul 21.15 jadi yang empatbelas memilih pulang.
Tapi aku dan Jihan belum rela meninggalkan sang Festival Musik RuangRupa. Kami menunggu grup musik favorit kami, siapa lagi kalau bukan white shoes and the couples company (beruntunglah kalian hai wsatcc didemi-demikan oleh kami =_="). Aku sih tak hanya menunggu wsatcc, aku setia menunggu si gadis jelita dari Jogja, frau. Dan sungguh malam itu dia (Leilani Hermiasih - Frau) sangat menggemaskan. Jarinya lincah melompat dari tuts satu ke tuts lainnya. Permainan piano dan suaranya itu bikin aku mangap :O terpesona. Benar-benar suasananya jadi melankolik bitch gitu pas lagu "Glow" dimainkan. Mbak Leila tampil di atas panggung dengan membawa-bawa gelas bernuansa klasik (gimana coba? -_-') warna biru dongker entah isinya teh, kopi, wedang jahe atau air putih. Yang jelas gelas itu bikin mbak Leilani tambah anggun apalagi mbak-nya kalo minum jari kelingkingnya itu nggak menyentuh gelas. Wuis, wuanggun'ok. Sangar mavroo. hehe.

Sebelumnya ada Oom Sir Dandy, yang bikin aku manggut-manggut sendiri pas dia bilang : setiap lagu itu punya efek psikologis pada kita, entah itu senang, bahagia, sedih, menangis, bahkan bunuh diri tanpa harus kita tahu apa judul lagu itu. Hehe, iya bener. Dan itulah intro dari lagunya yang berjudul “Lagu Itu”. Oom Sir Dandy malam itu menawarkan cerita keseharian, pengalaman pribadi, dan pandangannya tentang kehidupan sosial yang beragam lewat lirik-lirik lagu yang dibawakan. Em, liriknya mudah ditangkap, bernada sih tapi acak-acakkan (menurutku, haha), Oom ini sepertinya ingin menunjukkan bahwa dalam bermusik itu tak hanya soal suara indah, ke’pas’an nada dan lirik yang romantis (aku bilang kayak gini karena baca beberapa twit-nya dan dengar lagu-lagunya juga tentunya). Dan karena malam itu (plus malam-malam lainnya) suara Oom Sir Dandy emang nggak indah-indah amat dan kadang fals, fals yang disengaja kupikir. Tapi semua menikmati tuh, karena si oom-nya juga menikmati pas membawakan lagu. Hehe. Yang tadinya nggak tertarik ni, pas nonton live-nya pasti jadi tertarik deh. Hee :D

Nah, Inilah yang paling ditunggu-tunggu sodara-sodari, Sang sepatu putih dan perusahaan pasangan (white shoes and the couples company). Malam itu hatiku tak bisa berhenti bergoyang bibirku juga senyamsenyum mulu deh kayanya. Aksi panggung wsatcc sangat uwow aduhai, hehehe. Ricky malam itu sangat energik lompat depan-belakang sambil main bass, begitu juga dengan Rio Farabi menggendong gitar ke kanan dan ke kiri. John Navid tak kalah energiknya, naik ke atas kursi drum dan memukul atap panggung di akhir pertunjukannya. Seperti biasa, si Ale tampan memainkan melodi dengan sangat humoris (hayo gimana coba? ;p). Mela dengan gincu merah menyalanya tak mau kalah ikut memberikan nuansa disco 70-an dalam dendang musik grup ini. Yassalaaammm, Nona Sari tuntas juga menuanaikan tugasnya sebagai vokalis sekaligus penari dengan gerakan yang juga 70-an, hehehe. Penampilan wsatcc membuat aku meraba lagi memori akan kaset pita warna putih dengan sampul album kuning "white shoes and the couples company" yang mungkin sekarang tebal dengan debu di bawah meja komputer. Hai, apa kabarmu Bung-nona? :)

Malam itu aku tahu mereka tak hanya menawarkan musik, namun juga menawarkan cerita, kesibukan, keliaran, kegugupan, perjalanan, hubungan rumah tangga, persahabatan, dan suara fals. Mungkin begitu, hehe. Selamat Malam!
*)Aku dan Jihan pulang tak dapat kereta, kami naik taksi 75ribu lalu saya tawar menjadi 60ribu (sebenarnya bisa ditawar lagi alias bayar 'tembak', namun sayang argo sudah jalan ;p yah, rejeki Tuhan untuk Pak supir memang tak tertukar. hehe.), dilanjutkan naik angkot 41 turun cibinong lalu angkot 08 turun pasar anyar beli nasi goreng karena lapar, makan nasi goreng berdua dalam angkot 03, lalu masuk angkot leuwiliang turun bara depan dan naik ojek empatribu –sebelumnya harus membangunkan pak ojek terlebih dahulu, karena mereka berdua sedang lelap di tengah tugas malam mencari nafkah untuk keluarga-- dan sampailah aku di kosan. Malam itu dingin sekali, namun tidak dengan hatiku karena kenangan menikmati aksi panggung jagoan Indonesia senantiasa menghangatkan, ehehehe. yang di bawah ini foto Jihan dan Ale wsatcc :D
(Sumber foto : Dokumen pribadi, RuangRupa RecordFestival 2011)
Komentar
Posting Komentar