Rasa Nomor 74
Tuhan, itu tidak egois. Yakaleee ik kalo Tuhan egois apa bedanya dengan
ciptaannya.
Dan oleh karenanya saya masih percaya soal Tuhan. Teman saya, ada juga yang
tidak percaya. Tapi itu terserah dia lah. Saya juga tidak bisa berbuat banyak, lagi
pula wong saya bukan pacarnya juga. Kecuali, saya pacarnya, maka saya akan
bingung tak karuan. Bagaimana nanti kami akan menikah, di mana nantinya kalau
calon suami saya itu tidak punya Tuhan. Kantor Urusan Agama (KUA) kan juga
bingung. Wong mikir kawin lintas agama di negara ini saja susah, apalagi kawin sama
yang belum punya Tuhan.
Iya, dia tentu punya Kartu Tanda Penduduk (KTP) Indonesia. Ya walaupun dia
punya, dan di situ tercatat beragama bla bla bla, misalnya. Tapi pertanyaannya,
apakah dia mau ke kantor agama kalau dia sendiri ngaku tak percaya Tuhan,
bakalan gengsi kaliiii. Kecuali kalau memang si lelaki sudah cinta mati dan
ndakmikir gegengsian sih. Eh? Apasih ini, kenapa jadi lari ke situ-situ, nggak
nyambung deh -__-‘a. Maafin. Jadi sebenarnya gini lho,
Ehem. Sebenarnya ini cuma mau cerita soal komeng-komengan saya dan teman
saya. Soal kenapa kita dihidupkan. Pertanyaan itu diajukan oleh teman saya. Dan
sebelumnya saya juga sudah sering sekali denger, tapi ndak saya tanggapi. Yang
ini, saya isen saja nanggapi. Hehehe. Awalnya begini,
Teman saya: Mengapa Allah menciptakan manusia yang nantinya juga
akan dimatikan lagi. Trus kita disuruh apa di dunia ini?
Saya: Ngombe.. Urip mung mampir
ngombe...
Teman saya: La ya nek Cuma ngombe thok
mending gak usah ada.. heee...
Saya: (dengan jawaban yang panjang, sotoy dan yaaa, cuma
menurut saya saja, hihi.)
Karena Tuhan itu nggak egois. Tuhan
ngasi kesempatan kita untuk mampir bentar di dunia, untuk ikut menentukan nasib
hidup kita kelak setelah mati.
Karena setelah dimatikan, kita Cuma bisa
menerima apa yang dikasih Tuhan. Setelah kita dimatikan, kita tinggal nrimo. Jadi
biar gak ngelak (bahasa Jawa: haus) setelah dimatikan, ‘ngombe’lah (Bahasa
Jawa: minumlah) sebaik-baiknya ketika hidup. Karena yang singkat itulah
kesempatan yang dikasih Tuhan ke kita untuk dimanfaatkan. Dijalani, diputuskan
dengan akal kita. Setelah dimatikan Tuhan, sudah tidak ada urusan ‘mencari’
lagi, juga untuk mencari ngombe.
Menurutku yang percaya surga dan
neraka, kalau tanpa dihidupkan dan Tuhan langsung nentuin si manusia A masuk surge
dan si B masuk neraka. Itu terlampau sayang. Manusia itu, konon dibekali akal,
terlalu sayang rasanya jika Tuhan saja yang menentukan hidup setelah matinya si
manusia. Yajadi makanya dihidupkan dulu sebentar, biar ending dari segala
ending itu atas hasil manungso dan Tuhannya. Adil.
Mungkin itu nalarku yang ngasal. Hekhek.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jawaban saya mungkin salah, mungkin ngasal atau mungkinkahhhh kita kan
slalu bersama... walau terbentang jarak antaraaa kitaaa*. Halahhh. Ya gitu deh.
Yang jelas yang terlintas di pikiran saya Cuma itu.
Dan mengapa saya masih percaya Tuhan. Karena selama hidup, saya banyak
mengalami faktor ‘x’ yang tidak bisa dijelaskan. Dan saya percaya itu karena
Tuhan. Ada tangan-tangan yang tidak kelihatan, yang menggandeng, yang memeluk, yang mengangkat bahkan menggendong
saya ketika saya jatuh dan tidak bisa bangun (mungkin ini lebai, tapi biarin).
*lirik lagu Stinky, Mungkinkah
Komentar
Posting Komentar