Postingan

Rasa Nomor 100

Gusti, apa memang hidup itu perlu dikotak-kotakkkan? Yang baik mana yang buruk mana, yang beruntung mana dan yang nggak beruntung mana? Lalu buat apa? Buat surga dan neraka? Selain itu buat apa lagi, Gus? Saya perlu penjelasan yang baik itu yang seperti apa dan yang buruk itu yang bagaimana? Karena setiap yang hidup di bumi ini punya versinya sendiri-sendiri. Tapi kalau saya nggak suka sama kotak-kotakkan itu, boleh kan, Gus? Kotak-kotakkan itu bikin dada saya sesak. Seperti ada yang tertahan, bahkan kadang-kadang seperti ada yang tercabut tiba-tiba padahal sudah tertanam lama. Sakit, Gus. Saya jadi kepikiran, kalau kita cuma dianjurkan temenan sama orang-orang yang baik, yang membawa kita menjadi lebih baik, menyuguhkan kebenaran (dengan versinya).   Lalu yang buruk dan jahat seperti saya ini siapa dong temennya? Begini, Gus, mungkin saya GR, mungkin saja enggak. Tapi saya sedang merasa tidak dikonconi karena saya saya dikhawatirkan memperburuk. Dan akalu saya...

Rasa 99

Ia tentu tahu. Lari duluan sekencang-kencangnya memang akan membuatnya lekas sampai. Meninggalkan satu hal, menuju hal lainnya. Berpindah. Namun ia juga tahu bahwa selesai tak dapat dicapai hanya dengan berlari. Bahkan, oleh pelari yang ikut lomba lari Agustusan sekalipun. Sekencang dan sejauh apapun berlari, takkan membuatnya begitu saja sampai, apalagi ke tujuan. Sebelumnya ia harus tahu, jalur mana yang harus dilewati. Dan yang penting, barangkali, apa yang dituju. Jika sudah begitu,lari bisa jadi piranti mencapai selesai. Meski ia tahu tak ada yang benar-benar selesai hanya dengan berlari, lari, nyatanya selalu muncul dalam daftar pilihannya. Memang bukan untuk menyelesaikan, kata dia. Lucunya, ketika kutanya, ia menjawab tak tahu untuk apa. Apa sebaiknya, tak usah berlari, jalan-jalan saja, ke atap rumah yang basah. Ke arah angin yang tak kedengaran. Ke cahaya dari genteng berlubang. Sore ini, kutemui ia bicara sendirian.

Rasa Nomor 98

Memiliki sesuatu yang tak mungkin dimiliki, itu, kadang-kadang menjadi lebih menarik. Seorang kawan pernah bilang, terkadang sesuatu--apapun itu--milik orang lain, yang sulit digapai, akan terlihat lebih agung, lebih akbar. Mungkin suara lain dalam televisi atau kicauan twitter akan berkata, itu karena diri yang tak bisa bersyukur. Itu soal lain sih menurutku, dan aku sedang tak membahas itu. Berharap memiliki apa yang dimiliki orang lain itu satu hal. Sedang bersyukur adalah hal lainnya. *** Melihat dan mengagumi dengan jarak. Dekat sekali memang tapi mustahil memiliki, karena biar dekat tapi sudah berlabel. Jika barang, sudah terbeli, ada pemiliknya. Terkadang, melihat milik orang lain dan mencoba memiliki kepunyaan orang lain itu terasa lebih menyenangkan. Malam itu, di depanku sedang duduk lelaki milik perempuan lain di sebuah kota. Perempuan itu tak pernah tahu--atau mungkin belum tahu--lelaki di depanku ini sedang bicara bahwa jantungnya tak lagi berdebar saat bersam...

Rasa Nomor 97

Gambar
Hmmm. Saya mau coba posting agak serius gitu deh ya. Ini soal Pemilu 2014 bagi pemilih difabel. H ak pemilih difabel atau orang berkebutuhan khusus dalam setiap pemilihan umum nyaris selalu luput dari perhatian penyelenggara Pemilu. Pemenuhan hak mereka tertutup riuh rendah keributan yang diciptakan para pemilik partai politik. P ada Pemilu 2004 lalu, pemilih difabel kesulitan lantaran template atau surat suara bagi pemilih tunanetra tidak disiapkan KPU. Malahan, KPU meminta kelengkapan tersebut disiapkan oleh individu atau organisasi kaum difabel. Fasilitas bilik suara pun kala itu tidak memperhitungkan akses pemilih difabel. Pengguna kursi roda juga kesulitan masuk bilik suara yang lebarnya kurang dari 90 sentimeter, apalagi tinggi meja pemilihan juga masih sulit dijangkau pengguna kursi roda. Pada Pemilu 2009, template surat suara untuk pemilih tunanetra kemudian dibuat. Satu kemajuan, namun bukan berarti hak pilih kaum difabel sudah tuntas terakomodir. Tahun itu, m...

Rasa Nomor 96

Gambar
Kenapa tahun baru dan bukan hari baru saja? Jangan tanyakan pada saya, saya juga nggak paham. Dengan bergantinya matahari dengan bulan, lalu bulan dengan matahari lagi, menurut saya, itu sudah cukup untuk bisa dibilang membuka lembaran baru. Berganti satu kali bulan dan sekali matahari berarti satu hari. Tidak harus menunggu setahun itu sudah menandakan bergantinya sesuatu kan? Mungkin bisa jadi itu cuma masalah tanda saja sih. Orang lebih mudah menghitungnya per tahun, lalu muncul lah tahun baru. Mungkin ngawurnya begitu. Habis saya gugling nggak dapet. Bukan nggak dapet sih, nggak mau lama-lama nyari, lantaran ini sudah hampir pagi dan besok saya mburuh. (alasan aja kamu, ika!). Baiklah skip. Eng. Bisa saja setiap jarum panjang di arloji bergerak—yang berarti detik baru—itu juga bisa jadi tanda. Tapi ya terlalu singkat rasanya untuk dijadikan ukuran. Mungkin lewat satu tahun, sekitar 365 hari lamanya, orang akan bisa mengukur dan akan lebih mudah menghitung a...