Postingan

Mengamati Juru Kamera

Gambar
Ia menemui beberapa tamu yang hari itu datang ke peluncuran buku kumpulan fotonya di sebuah kafe. Kakinya berpindah dari satu meja ke meja lainnya. Malam itu ia mengenakan baju jambon, kerahnya agak berantakan—terangkat salah satu sisinya, kancingnya dibuka dua. Kemeja itu ia masukkan ke celana bahan, paduan pastel. Sepatu pantofel gaya vintage ia pilih hari itu. Rambutnya yang tak gondrong tersisir rapi, seperti biasa. Kalau saja lengan bajunya tak pendek, barangkali sekilas ia sudah tampak seperti manajer sebuah perusahaan, para penawar MLM atau, setidaknya tim marketing lah. Karena lengan panjang membuat tato-tato di lengannya tak kelihatan. Mata saya tak bisa berhenti mengikuti gerak tubuhnya. Ia menyapa semua tamu, kecuali meja saya. Satu per satu ditemuinya. Sesekali kepalanya dimiringkan, kadang ia juga menunjukkan ekpresi kaget, mengangkat bahunya, lantas menyungging. Tapi ujung-ujung bibirnya itu tak henti membentuk huruf U, malam itu ia begitu sumringah. Sebelu...

Pesan Ibu

Gambar
Selain mawas diri, ibu meminta saya untuk cakap menitipkan diri. Setiap kali menginap atau menumpang di rumah saudara ataupun kawannya atau juga kawan saya; ingat jangan bangun siang-siang, begitu kata ibu. Selanjutnya, kalau melihat ada yang berantakan, lekaslah bereskan. Kalau melihat ada yang di dapur, ikutlah bantu memasak. " Isuk tangi langsung nyapu, nek piringi rusoh dikorahi. (Artinya: Bangun pagi langsung menyapu. Kalau ada piring kotor langsung dicuci)," salah satu ucapan rutin ibu setiap tahu saya sedang menumpang tidur. Di rumah sendiri, saya lebih sering bangun siang. Tapi tetap saja, setiap kali subuh tiba suara ibu secara intens meneror saya sampai saya benar-benar beranjak dari kasur. Setelah salat, saya boleh tidur lagi. Tapi biasanya setengah tujuh saya mengantar ibu ke sekolah. Kalau hari itu malas, maka saya akan tidur-tiduran lagi pukul 10 sampai pukul 12, setelah menyapu dan beberes. Begitulah rutinitas selama pulang kampung. Ibu juga berpesan, ag...

Hindari Bertele-tele

Gambar
Meskipun ini bukan tahun baru, tapi saya ingin mengukuhkan sebuah tekad--kalau emoh disebut resolusi. Jumat dini hari ini tiba-tiba terpikir sesuatu: menulislah lebih ringkas, ika. Saya, terbiasa menulis panjang dan bertele-tele dan lalu ingin menceritakan banyak hal dan bisa saja jadi hilang fokus dan menjemukan dan mungkin juga beberapa tidak relevan atau tidak penting. Segala hal yang saya sebut di atas dalam satu kali napas itu ingin saya enyahkan--ya atau kalau kelewat sulit dicapai, yamungkin katakanlah, ditekan. Saya, perlu menyampaikan sesuatu dengan lebih ringkas. Kalau dalam Microsoft Word, 1000 karakter itu maksimal. Syukur-syuku bisa di bawah 900 atau 800 karakter. Tapi ingat, tanpa mencabut nyawa yang hendak diceritakan. Dan, tetap menarik disimak dong tentunya. Tak semua orang punya banyak waktu luang untuk mendengarkanmu--atau membaca tulisanmu, karena itu ceritakan saja seperlunya.

Di Sebuah Gang Setelah Turun dari TransJakarta

Air mengalir dari tiap pojok mata saya, begitu saja, ketika Don't Think Twice milik Bob Dylan melaju di kuping. Saya ingat, saat itu sedang memikirkan hal lain. Belum sampai otak saya rampung merunut apa gerangan alasan, air-air itu pelan tapi pasti melewati hidung dan pipi, ingatan lalu terlempar ke Senin sore 17 Februari--beberapa hari sebelum hari ini. Ketika itu hal serupa juga terjadi. Saya melewati gang-gang menuju rumah sewa, gerimis turun, saya mengeluarkan payung, membentangkannya untuk melindungi kepala dari air, kaki terus lempang menyusur aspal yang warnanya kelihatan lebih tua karena basah, mata saya terus-terusan memandangi ujung-ujung sepatu, sedang jemari beberapa kali mengusap air sebelum melewati pipi, telunjuk kadang masuk ke celah kaca mata yang saya kenakan. Saya mudah sekali menangis. Menyebalkan.

Merasa Bersalah

Gambar
Saya mengenal beberapa orang, tidak dekat memang. Tapi cukup kenal dan, kami saling tahu. Saya ingin peduli dan membantu mereka, semua. Tak terkecuali. Tapi ternyata daya dan kuasa yang saya punya tak mencukupi. Dan seorang kawan pernah mengingatkan setengah berseloroh, bahwa kita--atau saya--bukanlah resi ataupun nabi. Di saat seperti itu--tak bisa membantu dan seperti tak bisa melakukan apa-apa--rasa bersalah mampir lalu menetap. Beberapa orang yang saya kenal itu mungkin tak memahami ketakberdayaan dan jangkauan kuasa saya. Sehingga sebagian menuntut lebih, sebagian lain mungkin tak peduli. Apapun itu, saya berpikir tak perlu menjelaskan ketakberdayaan saya juga di tengah semesta raya ini. Seorang mbak-mbak senior pernah bilang ke saya, ngapain kamu mikirin orang-orang itu. Menurut dia, sebenarnya orang-orang itu pun tak benar-benar mengharapkan saya. Kata dia, biarkan saja yang begitu itu. Saya menjawab pernyataan mbak-mbak itu dengan: o iya ya. Meski sebetulnya saya ta...

Setelah Hampir 2 Jam Percakapan

Gambar
Saya baru saya ngobrol dengan kawan saya melalui sambungan telepon. Hampir dua jam. Membicarakan banyak hal, sampai-sampai saya lupa. Tapi satu hal, dia meminta saya menuliskan apapun yang ada di pikir, lantas memaknainya. Saya lalu bertanya, memaknai itu seperti apa? "Ya nulis aja, terus dimaknai." Ia menjawab dengan pernyataan yang sebetulnya masih tak saya mengerti. Jadi lah, begini saja. Saya menulis apapun yang sedang lintas di otak. Belakangan, mungkin sekitar dua pekan belakangan saya merasakan pikiran saya berjejal. Tapi tidak tahu itu apa. Biasanya saya pandai mengurai, tapi kali ini tidak. Seperti ada yang tertahan dan, tak ingin saya ketahui. Saya ingin cerita, tapi saat bicara, yang keluar adalah kalimat yang lompat-lompat yang salah-salah justru tak dipahami lawan bicara. Sering sekali begitu. Setelah menuliskan, atau hanya mengingat-ingat sesuatu di sela saya minum kopi atau es milo atau es nutrisari atau es apapun juga, tiba-tiba saya menangis. Ai...

Teman Sarapan

Gambar
Saya sedang merampungkan membaca kumpulan cerita pendek sembari menandaskan kopi hotel--yang tentu rasanya tak keruan--ketika Ongen menghampiri. "Sarapan dulu, Bung. Ngopi." Lelaki usia 40an itu tak langsung duduk, ia menuju meja prasmanan. Kembali ke meja saya, dengan sepiring nasi juga lauk. Pagi itu saya tak sarapan, tak biasa sarapan memang. 30 menit pertama obrolan kami hanya basa-basi dan seputar apa saja rencana hari itu. Hingga ia bertanya tentang asal saya. Lalu mengetahui bahwa saya perantau. Dan selanjutnya, karena saya mengenakan jilbab, tentu ia menganggap saya merayakan lebaran. Di situlah mula kami bercerita soal lebaran, soal konflik--yang kemudian digiring ke arah antar-pemeluk agama--pada 1998 hingga, ketakutan anaknya mengetahui kebenaran demi kebenaran. Kebenaran memang saringkali menyakitkan, menjengkelkan, kelewat pait buat diterima. Tapi begitulah. Ia lantas mengisahkan, Ambon, kota kelahirannya itu tak seseram bayangan para pendatang. Mesk...