Postingan

Bulan Lahir

Malam tadi sebelum makan, aku sesumbar ke kawan sebangku, perempuan aries yang lahir pada April lebih kokoh dibanding mereka yang Maret. Rupanya betul, tak ada yang suka dengan kesombongan. Karena selang beberapa jam setelah omong kosong sesumbarku, semesta ngasih tahu aku lewat caranya sendiri dan menunjukkan bahwa sebetulnya perempuan aries kelahiran April tak kalah rapuh dari yang Maret. Bedanya, mereka yang April menahan sedangkan perempuan Maret melepaskan. Aku, menahan.

Perkenalan

Sebulan ini saya menerima tawaran kawan senior untuk membuat profil beberapa orang. Sebelum menyusun tulisan, saya terlebih dulu membaca rekam jejak orang-orang itu, komentar masing-masing orang terhadap suatu masalah, buah pikir atau gagasan yang sebagian mereka tuangkan dalam esai. Kalau masih kurang, ya melakukan wawancara atau ngobrol tipis-tipis dengan orang yang dekat dengan profil yang hendak saya tuliskan. Ada beberapa yang sudah saya kenal dan dengar sebelumnya. Tapi sebagiannya juga merupakan nama-nama asing yang, kemudian membuat saya harus menggali dan stalking agak keras. Sebab kadang, cerita tentang beberapa nama tak saya temukan di mesin pencari raksasa google. Bukan karena mereka tak hebat, sama sekali bukan. Ini cuma perkara cerita beberapa dari mereka belum pernah dituliskan atau belum jadi 'makanan' media massa. Atau juga, soal momentum. Belum ada cantolan yang membuat nama mereka harus muncul di media mainstream kalau bukan viral di medsos. Padahal, ke...

Edit

Gambar
Setiap manusia, tiap-tiap jiwa yang saya temui punya versi cerita masing-masing. Dan, tiap-tiap diri punya kuasa untuk mengedit cerita sesuai kebutuhan, sesuai kepentingan. Karena itu, tak ada alasan bagi saya untuk betul-betul percaya pada sebuah cerita, satu kisah, apalagi kalau hanya modal mulut manusia. Orang, bisa sesuka hati bercerita padamu tentang hidupnya yang berlarat-larat. Atau, soal kebenciannya terhadap orang lain sambil sibuk melulu menyalahkan semua hal di luar dirinya. Saya menduga, itu semata untuk keperluan melanjutkan hidupnya belaka. Dan memang, cara gampang menyelesaikan perkara selama masih di dunia ini kan, bukankah dengan menyalahkan pihak ketiga? Tapi, ada juga, manusia yang mengutuki diri sendiri seraya menganggap yang terjadi di muka bumi ini seluruhnya perlu ia selamatkan. Meski, ia tahu dirinya bukan resi atau nabi. Dan, yang harus diketahui orang macam itu adalah, tugas menyelamatkan bumi beserta isinya itu, berat. Termasuk mungkin bagi Dilan--tokoh...

Patah Hati

Gambar
Malam ini saya merasa bersalah sekaligus remuk hati. Entah apa hubungan langsung dengan saya, tapi ada yang growong setelah menggenapi hari ini. Mulanya dari kabar tentang Tuti Tursilawati. Melalui pesan singkat saya beroleh berita, buruh migran perempuan itu dipancung pada Senin 29 Oktober 2018 pukul 7 pagi waktu Saudi. Hakim di persidangan Saudi memutus Tuti bersalah karena tuduhan pembunuhan berencana. Dalam sistem hukum di negara itu, pembunuhan berencana masuk jenis had ghillah, kejahatan yang tak bisa dimaafkan oleh siapapun. Karena itu, ia divonis mati. Tuti, saat proses pemeriksaan, mengakui bila ia membunuh ayah majikannya. Tapi yang diabaikan hakim Saudi, pembunuhan terjadi karena Tuti membela diri. Ia, hendak diperkosa. Sebelum itu, ia juga dilecehkan berkali-kali. Saya, tak pernah tahu bagaimana kelak akan mati. Tapi memang ada beberapa manusia yang tahu cara-cara mereka mati. Selayaknya kakidashi pada salah satu cerpen Yusi: Maut itu rahasia. Tapi tidak selalu begitu...

Buka-Tutup Tab Percakapan

Gambar
Ibu kota sedang hujan. Tentu, tanah basah dan genangan air di mana-mana. Orang bilang, bau hujan awal musim mengundang beberapa manusia menjajaki kenangan-kenangan yang tak perlu. Atau, tak semestinya hadir. Tapi kenangan kan, tak seperti ingatan yang bisa diedit atau pilih sesuka pemilik. Kenangan, konon, punya kewenangan melebihi ingatan, ia bisa muncul kapan saja. Dan, bersemayam sesukanya tanpa tenggat sonder kuasa empunya untuk melakukan perlawanan. Sesungguhnya saya tak yakin kalimat-kalimat di atas itu betulan demikian, atau sebenarnya hanya dibuat-buat supaya bisa muncul pemakluman bagi pembaca: bahwa, oh kenangan itu muncul karena hujan. Oh, hujan membuat beberapa hal jadi melankolis. Dan sebagainya dan seterusnya. Saya pikir, perlu ada studi yang bisa membuktikan betulkah hujan itu membikin manusia merenungi kondisi yang lampau, sumber inspirasi atau juga, jadi waktu terbaik untuk menyusun kerangka karya dll. Oke. By the way, Setidaknya bagi saya, air tengara awal mus...

Kejengkelan yang Tak Penting-Penting Amat

Gambar
Sejak dulu, saya kerap jengkel dengan orang yang manja dan rewel. Sedikit sedikit ah uh ah uh. Ingat, suatu malam pada tahun entah saya terlibat perjalanan menonton konser dengan kawan saya, kebetulan perempuan. Sepanjang perjalanan ia mengeluh soal jalan kaki, berkeringat, tak mau naik kendaraan umum, dan seterusnya dan sebagainya. Tapi saya tetap menghormatinya, dengan menuruti kemauannya. Sebab, malam itu ia pergi bersama saya maka harusnya saya paham bahwa tanggung jawab menemani juga menjaganya sudah di pundak. Meski menghormati pilihannya, bukan berarti saya tak sebal. Saya, tetap jengkel dengan tabiat macam itu. Malam ini saya kembali dipertemukan dengan yang macam begitu. Tapi kemudian saya mencoba memunculkan pemakluman, tak semua hal di atas bumi dan di bawah langit bisa sesuai dengan kehendak saya bla bla bla atau, idealnya menurut saya la la la. Toh , boleh jadi laku semacam tadi di atas muncul karena sejarah buruk di kehidupannya. Walaupun nggak suka, saya mencoba ...

Racun

Gambar
Beberapa hal kelewat tak berarti jika terlalu lama dipikirkan. Saya berharap punya keahlian kurasi apa-apa dalam pikir, mana yang mestinya dibiarkan tinggal dan, mana yang dilepaskan. Menurut seorang kawan, sementara ini kesaktian saya baru tahap membangun tembok yang tak kelihatan, jangan harap dulu lah kalau soal keruwetan pikir. Itu, masih awet. Istilah kontemporer menyebutnya baper, bawa perasaan. Lantas saya bertanya--pada diri saya sendiri--memang kapan manusia tak membawa perasaannya? Saat bekerja pun bahkan seringkali demikian bukan? Meski, semestinya tidak selalu begitu. Saya teringat pesan pendek karib saya yang, mengingatkan tentang cara mengelola hubungan dengan orang yang beracun. Dia menyarankan agar saya menjaga jarak dari yang demikian. Racun, kata dia, kadang bagus tapi tak jarang pula membikin pertahanan lemah. Lalu bagaimana golongan yang beracun itu? Salah satunya, kalau bagi saya, mereka yang punya mulut berbisa dan hampir pasti selalu berkomentar hal-hal bur...