Postingan

Merasa Bersalah

Gambar
Saya mengenal beberapa orang, tidak dekat memang. Tapi cukup kenal dan, kami saling tahu. Saya ingin peduli dan membantu mereka, semua. Tak terkecuali. Tapi ternyata daya dan kuasa yang saya punya tak mencukupi. Dan seorang kawan pernah mengingatkan setengah berseloroh, bahwa kita--atau saya--bukanlah resi ataupun nabi. Di saat seperti itu--tak bisa membantu dan seperti tak bisa melakukan apa-apa--rasa bersalah mampir lalu menetap. Beberapa orang yang saya kenal itu mungkin tak memahami ketakberdayaan dan jangkauan kuasa saya. Sehingga sebagian menuntut lebih, sebagian lain mungkin tak peduli. Apapun itu, saya berpikir tak perlu menjelaskan ketakberdayaan saya juga di tengah semesta raya ini. Seorang mbak-mbak senior pernah bilang ke saya, ngapain kamu mikirin orang-orang itu. Menurut dia, sebenarnya orang-orang itu pun tak benar-benar mengharapkan saya. Kata dia, biarkan saja yang begitu itu. Saya menjawab pernyataan mbak-mbak itu dengan: o iya ya. Meski sebetulnya saya ta...

Setelah Hampir 2 Jam Percakapan

Gambar
Saya baru saya ngobrol dengan kawan saya melalui sambungan telepon. Hampir dua jam. Membicarakan banyak hal, sampai-sampai saya lupa. Tapi satu hal, dia meminta saya menuliskan apapun yang ada di pikir, lantas memaknainya. Saya lalu bertanya, memaknai itu seperti apa? "Ya nulis aja, terus dimaknai." Ia menjawab dengan pernyataan yang sebetulnya masih tak saya mengerti. Jadi lah, begini saja. Saya menulis apapun yang sedang lintas di otak. Belakangan, mungkin sekitar dua pekan belakangan saya merasakan pikiran saya berjejal. Tapi tidak tahu itu apa. Biasanya saya pandai mengurai, tapi kali ini tidak. Seperti ada yang tertahan dan, tak ingin saya ketahui. Saya ingin cerita, tapi saat bicara, yang keluar adalah kalimat yang lompat-lompat yang salah-salah justru tak dipahami lawan bicara. Sering sekali begitu. Setelah menuliskan, atau hanya mengingat-ingat sesuatu di sela saya minum kopi atau es milo atau es nutrisari atau es apapun juga, tiba-tiba saya menangis. Ai...

Teman Sarapan

Gambar
Saya sedang merampungkan membaca kumpulan cerita pendek sembari menandaskan kopi hotel--yang tentu rasanya tak keruan--ketika Ongen menghampiri. "Sarapan dulu, Bung. Ngopi." Lelaki usia 40an itu tak langsung duduk, ia menuju meja prasmanan. Kembali ke meja saya, dengan sepiring nasi juga lauk. Pagi itu saya tak sarapan, tak biasa sarapan memang. 30 menit pertama obrolan kami hanya basa-basi dan seputar apa saja rencana hari itu. Hingga ia bertanya tentang asal saya. Lalu mengetahui bahwa saya perantau. Dan selanjutnya, karena saya mengenakan jilbab, tentu ia menganggap saya merayakan lebaran. Di situlah mula kami bercerita soal lebaran, soal konflik--yang kemudian digiring ke arah antar-pemeluk agama--pada 1998 hingga, ketakutan anaknya mengetahui kebenaran demi kebenaran. Kebenaran memang saringkali menyakitkan, menjengkelkan, kelewat pait buat diterima. Tapi begitulah. Ia lantas mengisahkan, Ambon, kota kelahirannya itu tak seseram bayangan para pendatang. Mesk...

Pamrih dan Ketidakpedulian

Gambar
Kenapa ada sebagian manusia yang memilih baru mau peduli, ketika dia ditimpa masalah? Atau, ketika persoalan itu ada hubungannya dengan kepentingan dirinya. Kalau tidak, ya maka sikap pura-pura tidak tahu atau tak ambil pusing menjadi jalan yang dianggap paling tepat. Padahal kan, saat masalah itu tak secara langsung terjadi atau menimpa dirinya, bukan berarti ia terbebas dari masalah serupa di kemudian hari nanti kan? Ada yang beranggapan ketika sebuah persoalan itu tak langsung menimpanya, seakan-akan badai itu tak jua bakal mampu menerjang mereka kelak. Sedang ketika tiba kelak giliran ia yang berperkara, lalu ia bakal kelimpungan mengiba kepedulian orang lain. Busuk betul. Sebenarnya saya tak suka manusia jenis ini, tapi kadang kasihan--kalau tak boleh menyebut tak punya pilihan--untuk tak meladeni mereka. Meski sebetulnya kata seorang kawan, saya punya pilihan untuk itu--dengan kata lain, menolak. Seorang lelaki--yang dulu sering saya dengar pendapatnya--berkali-kali...

Rencana

Gambar
Dalam perjalanan atau, saat jeda beranjak dari satu tempat ke tempat lain, biasanya permenungan dimulai. Saya, seringkali mendapati momen itu di tengah lengang jalan--atau rapat kendaraan. Mengendapkan yang sudah-sudah. Menekuri rangkaian detail yang tumpang-tindih. Sebelumnya saat di teras rumah, di tengah saya menyapu tegel kuning halaman, tiba-tiba saya takut kehilangan keluarga dan, hidup sendiri. Tak jelas muasal perasaan itu. Dan kenapa pula saat menyapu teras sore hari. Kemudian setelah itu, jadi terpikir, apa perlu segera menentukan tujuan yang jelas. Mematok pulang. Yang akan selalu jadi sesuatu yang dituju, untuk kembali dan, merestart diri. Saya lalu sadar, hingga kini belum memilih atau menentukan tujuan itu. Hidup selama ini berjalan nyaris tanpa rencana. Itu sebabnya ketika ada kawan yang bertanya: rencanamu apa? Saya tak pernah bisa menjawab--kalau bukan malas. Tapi itu betulan saya belum memikirkan rencana. Barangkali ini bikin jengkel orang di sekitar ...

Bagaimana Mengucap La Vita e Bella

Gambar
Bapak lahir dua hari sebelum tahun baru, 30 Desember. Tanggal lahir dan tahun baru, keduanya sama-sama biasa digunakan sebagian orang untuk mematok mula harapan. Lantas mengukur pencapaian-pencapaian. Beberapa orang menggunakan waktu-waktu itu sebagai penanda. Tapi seingat saya, bapak tak memakai keduanya. Ia menghikmati setiap hari. Pernah saat mengunjungi saya di asrama, ia menitip pesan, agar saya tetap eling akan waktu yang melingkupi manungsa. Mengenang bapak, sebetulnya yang saya dapati adalah sosok yang, seperti tak punya gairah. Alon ritme hidupnya, tampak selo. Kondisi yang--belakangan saya tahu--kadang bikin ibuk bete. Hehe. Kalau tahun ini ia masih hidup, enam bulan lagi usianya 62. Sudah bertahun saya tak lagi menulis surat saban tiba tanggal mangkatnya bapak, atau juga tanggal lahirnya. Saya tak paham betul apa sebab. Boleh jadi karena saya tak lagi menganggap penanda waktu itu sakral. Atau, karena kehilangan yang umurnya sudah sedasawarsa ini telah mengendap da...

Something

Gambar
Pernahkah kamu menghadapi pertanyaan: apakah rasa sayangmu padaku akan bertambah, atau sebaliknya? Dengan apa semestinya kita menjawabnya? Cukup dengan gelengan kepala atau, mengangkat kedua bahu? Yang terpikir dan, rasa-rasanya saya akan menjawab dengan salah satu lagu The Beatles ciptaan George Harisson, Something. Bunyinya begini: You're asking me will my love grow, i don't know ooooh i don't know. Kalimat yang cukup mewakili, meski boleh jadi juga tidak mendekati jawaban sesungguhnya. H H H. Tapi baiklah, saya tak bakal tahu rasa cinta atau juga kasih itu kian hari akan semakin berkembang biak atau justru menyusut. Karena itu jawaban i don't know hooo i don't know bisa jadi pilihan. Terlepas dari, segala pertanyaan akan kelihatan mudah jika dijawab dengan: tidak tahu selain juga, lupa. Beteweh, sesungguhnya lagu besutan gitaris Beatles itu katanya ditujukan buat yang ia imani. Kala itu George sedang menekuni 'Kesadaran Khrisna'. Tapi agak jang...