Rasa Nomer 59
Ia akan menikah dengan wanita lain, dan aku bilang “ Ya. Aku tak apa-apa.”
Namun, setelah itu aku menangis semalaman hingga pagi. Dengan tubuh bergetar dan dada yang sesaknya minta ampun. Keesokan harinya, segala hal masih berjalan seperti biasa. Aku menyelesaikan tugasku, menghabiskan waktu dua kali enampuluh menitku untuk mengisi ruang siar dengan suaraku, memutarkan lagu-lagu yang paling hits di minggu ini. Usai itu, aku masih tetap menyempatkan ngopi di beranda kantorku. Ini upayaku untuk meyakinkan bahwa masih ada yang manis di antara pahit kopi. Terkecuali dengan kopi yang tanpa gula, maka ia akan pahit. Begitu juga dengan hidup, pastikan hidupmu tak sepahit kopi yang tanpa gula. Masih ada gula kan? Dari kenangan-kenangan sebelumnya. Atau sebelumnya. Atau sebelumnya lagi. Atau kenangan lainlah yang menyisakan manis. Ayo ingat-ingat, setiap orang pasti punya.
Aku menghela nafas, sekali. Entah untuk apa.
Ngopi, sambil sesekali melihat ke garasi, meneliti mobil si bos. Memastikan apakah bosku hari ini mampir ke kantor atau tidak. Besok adalah rapat umum dengan semua klien yang memasang iklan di radio kami, jadi ada beberapa hal yang harus didiskusikan dengan pak bos mengenai jangka waktu kontrak, perpanjangan, dan kenaikan harga.
Hahhh. Satu helaan nafas lagi mungkin cukup untuk memantapkanku bahwa mau tak mau hidup harus tetap diberangkatkan. Walaupun dengan nyeri hati semalam. Hidup terlampau indah untuk dikacaukan dengan peristiwa yang hanya sekejap. Banyak upaya untuk menghibur diri sendiri. Masing-masing orang punya cara. Dan beginilah caraku. Ngopi.
Aku tak begitu mengingat detail adegan semalam. Kafe yang manis, mukaku yang berantakan, dan kamu yang tampan lalu dua cangkir yang entah apa isinya (aku tak sempat melihat). Hanya itu. Kemudian percakapan ringkas namun kompleks imbasnya (bagiku). Yang paling aku ingat adalah aku tak menangis di depanmu. Namun aku menangis sesenggukan setelahnya di kamar sewaku.
Tak mudah menata kembali apa-apa yang porak poranda hanya dengan tangisan semalam-sepagian. Aku tahu benar itu. Karena ini adalah keempat kalinya, aku ditinggal kawin dengan lelakiku. Lelaki yang kupikir bisa menjadi menantu ibuku.
Namun, setelah itu aku menangis semalaman hingga pagi. Dengan tubuh bergetar dan dada yang sesaknya minta ampun. Keesokan harinya, segala hal masih berjalan seperti biasa. Aku menyelesaikan tugasku, menghabiskan waktu dua kali enampuluh menitku untuk mengisi ruang siar dengan suaraku, memutarkan lagu-lagu yang paling hits di minggu ini. Usai itu, aku masih tetap menyempatkan ngopi di beranda kantorku. Ini upayaku untuk meyakinkan bahwa masih ada yang manis di antara pahit kopi. Terkecuali dengan kopi yang tanpa gula, maka ia akan pahit. Begitu juga dengan hidup, pastikan hidupmu tak sepahit kopi yang tanpa gula. Masih ada gula kan? Dari kenangan-kenangan sebelumnya. Atau sebelumnya. Atau sebelumnya lagi. Atau kenangan lainlah yang menyisakan manis. Ayo ingat-ingat, setiap orang pasti punya.
Aku menghela nafas, sekali. Entah untuk apa.
Ngopi, sambil sesekali melihat ke garasi, meneliti mobil si bos. Memastikan apakah bosku hari ini mampir ke kantor atau tidak. Besok adalah rapat umum dengan semua klien yang memasang iklan di radio kami, jadi ada beberapa hal yang harus didiskusikan dengan pak bos mengenai jangka waktu kontrak, perpanjangan, dan kenaikan harga.
Hahhh. Satu helaan nafas lagi mungkin cukup untuk memantapkanku bahwa mau tak mau hidup harus tetap diberangkatkan. Walaupun dengan nyeri hati semalam. Hidup terlampau indah untuk dikacaukan dengan peristiwa yang hanya sekejap. Banyak upaya untuk menghibur diri sendiri. Masing-masing orang punya cara. Dan beginilah caraku. Ngopi.
Aku tak begitu mengingat detail adegan semalam. Kafe yang manis, mukaku yang berantakan, dan kamu yang tampan lalu dua cangkir yang entah apa isinya (aku tak sempat melihat). Hanya itu. Kemudian percakapan ringkas namun kompleks imbasnya (bagiku). Yang paling aku ingat adalah aku tak menangis di depanmu. Namun aku menangis sesenggukan setelahnya di kamar sewaku.
Tak mudah menata kembali apa-apa yang porak poranda hanya dengan tangisan semalam-sepagian. Aku tahu benar itu. Karena ini adalah keempat kalinya, aku ditinggal kawin dengan lelakiku. Lelaki yang kupikir bisa menjadi menantu ibuku.
Gambar diambil di sini*dan jodoh itu sungguh datangnya entah. Serupa kejutan. Sedikit merubah puisinya Mas Chairil, memang benar bahwa”...Jodoh adalah kesunyian masing-masing..” hehehe. Selamat hari Senin (=
[sebenarnya ditulis hari minggu malam untuk diposting senin pagi, tapi karena aku nggak ngenet, jadi ya diposting selasa. hahaha.]
[sebenarnya ditulis hari minggu malam untuk diposting senin pagi, tapi karena aku nggak ngenet, jadi ya diposting selasa. hahaha.]
ikaaa.. ini novelmu opo? kok bagusss.. lanjutkan aku mau baca ya :))
BalasHapusbukan novel, Pram. hanya tulisan gak nggenah ngene ki.. ehekhek, nggak ada lanjutannya, ya mung ini thok :p
BalasHapus