Rasa Nomer 13
Kebahagiaan bisa datang dari mana saja dan tentu kapan saja. Termasuk sore (18/12) ini, ada berkantong-kantong kebahagiaan yang diberikan padaku, sampai tanganku pun tak kuasa menenteng semua-muanya. Dan ucapan terimakasihku pun tiada henti, saking banyak yang kuucapkan dan saling berdempetan hingga ada yang jatuh lalu hilang entah. Kemudian pada akhirnya tak ada kata yang keluar hanya senyuman. Ada satu kebahagiaan yang ingin kubagi, tak sabar kubagi, dan semoga menular pada kalian. Terimakasih sebelumnya, untuk seorang kawan atas tumpah ruah kebahagiaan yang dengan sukarela kau berikan padaku.
Pada suatu siang yang gerah dengan aku yang penuh keringat usai beradu raket saling menyerang dan menangkis bola bulu ayam (badminton, hek). Si kawan yang baru datang itu kemudian menghampiriku, memberiku bungkusan kecil berpita kuning. Mataku melotot, keningku berkerut. Karena seingatku hari ini aku tidak berulang tahun. Menangkap “tanda” tanya dari mata dan keningku, lalu ia pun memilih bicara :
“Jangan jadi semakin jatuh cinta sama aku ya ketika kamu membukanya. Ini dari aku.”
“Dari siapa?”
“Dari aku seorang diri.” Lagi-lagi deretan gigi yang sudah tak dipagari itu kembali ia tunjukan padaku.
“Kenapa?” aku masih saja bertanya (memang bawel akunya,maph. ;p)
“Pokoknya ini dari aku buat kamu, jangan semakin jatuh cinta sama aku deh kalo udah dibuka.”
“Makasihhh yaaa.”
Tak ada tanya lagi, kumasukkan bungkusan itu ke dalam tas merah. Begitulah kira-kira inti percakapan kami.
Sore hari yang indah, saat kubuka bungkusan bergambar kelinci dan gadis berambut pink, tak henti-hentinya senyum dari bibir tebalku ini mengiringi tangan membuka penuh si bungkusan berpita kuning. Dan, Jeng jeeeng....
Bungkusan itu berisi kaos kuning dengan gambar vespa kuning, dan akhirnya kusebut ini Yellove.
(Photo : captured and retouched by me.)
Benar-benar, sore itu aku merapal beberapa kata tak jelas dan tentu saja pujian kepada Tuhanku (MasyaAllah MasyaAllah Astaghfirullah Astaghfirullah aaaaaa *O*), berulang kali. Ahaha, lebai ya. Tapi beginilah kebahagiaan sore itu kulukiskan, aku tak sabar ingin segera mencuci Yellove dan memakainya di hari senin.
Oh, sungguh. Kawanku itu tahu benar aku sangat tergila-gila dengan vespa. Selalu ada kesenangan yang menyelinap ketika melihat vespa, apapun bentuknya, apapun macamnya. Kemudian keriangan menderu seperti suara vespa yang gagah berani membelah jalan. Tak peduli aku dengan kekunoannya, karena rasa yang melekat pada vespa itu menjadi sepanjang zaman, hehe. Tak ada kenangan dengan vespa, tak ada yang spesial hanya saja orang yang (pernah) spesial untukku dulu menyukai vespa, haha. Em, apakah untuk menyukai sesuatu dibutuhkan kenangan dan rasa spesial? Em, mungkin iya mungkin tidak.Tapi Pernahkah kau mengagumi sesuatu seperti aku mengagumi vespa? Dan kau pun tak tahu alasannya mengapa.
Oya. Terimkasih untuk pemberian-pemberian yang tak bisa disebutkan satu per satu, aku pernah diberi hiasan kayu vespa oleh tia, ada juga kaos dgn gambar vespa merah dari wemby, dan dua kaos lagi (cokelat dan putih) dari titou ia juga memberiku label nama (stiker2) gambar vespa bertuliskan namaku, lalu ada mainan dari kertas (replika mungkin namanya) dari adik tingkatku, fatin. Dan entah apalagi vespa-vespa yang sudah kudapat.
Memang rizki Tuhan itu takkan tertukar, selalu ada banyak pintu terbuka lebar untuk jalan lewat rizkiNya kepada kita, kepadamu, kepadaku, kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Seperti siang itu, Tuhan memberikannya lewat temanku Rani Manceu Anggraini. Terimakasih Manceu. Dan Terimakasih sekali Tuhan.
(Photo : captured and retouched by me.)
*)kadang aku terlalu banyak mengeluh tak penting dan melewatkan banyak nikmat yang tak henti mengalir untukku.
Komentar
Posting Komentar