Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Tua dan Penghiburan Diri

Gambar
Setelah beranjak tua, saya merasakan, rupanya lebih banyak enaknya ketika menjadi anak-anak. Mereka gampang senang dengan hal-hal biasa saja, hal-hal sepele, yang simpel, yang sederhana. Justru begitu. Apa mungkin ini karena belum beragam yang anak-anak tahu ya? Sehingga mereka akan mudah girang dengan yang baru, sekecil apapun, tak luput dari amatan juga pertanyaan mereka. Tapi itu jadinya menyepelekan anak-anak namanya kalau saya menyebut, ini karena belum beragam yang mereka tahu. Mungkin lebih karena, mereka minim ekspektasi? Tidak sok tahu seperti orang--yang menyebut diri--dewasa? Atau, karena mereka masih mengalir, membebaskan diri? Nggak tahu sih ya.    Sementara anak-anak menemukan kesenangan hanya melalui keberhasilan mengelabui para orang tua, misalnya, menekan tombol pause—untuk menjeda—pada timer yang dipasang orang tua sebagai 'pengawas' anak mengerjakan PR dan baru melanjutkan timer saat mereka kelar main di tengah garap PR, sebagian orang dewasa sibuk mencari p...

Percaya

Gambar
Delapan tahun lalu, saya menulis, saya tak akan percaya pada siapapun kecuali ibu saya. Saat itu saya mengalami sesuatu dan, sejak itu saya belajar satu rangkaian kemungkinan; sebagian orang akan mengarang cerita untuk kebaikannya masing-masing, sebagian lagi mengedit cerita untuk menyelamatkan diri dan orang yang mereka ingin selamatkan, lalu sebagian lainnya hanya mengungkapkan apa yang ingin mereka ceritakan. Karena itu saya jadi sulit percaya dengan cerita orang. Mulut yang bercerita punya versi masing-masing. Dan tentu saya--yang sarat keterbatasan, tak akan bisa menjamin mana yang benar. Meski ya, ada yang bilang kebenaran itu berkembang, kontekstual, bukan? Orang kan bisa saja menganggap satu hal benar, tapi lalu yang lain menganggap itu keliru. Atau, suatu waktu, seseorang memegang satu hal sebagai kebenaran. Tapi lalu, waktu berjalan, banyak hal terjadi, boleh jadi satu hal itu berubah nilainya. Bisa kah, begitu? Bisa kali ya. Nggak tahu. Cuma barangkali, mu...

di Supermarket

Gambar
"Nitip satu." Suara laki-laki di belakang saya bicara ke kasir sembari menyerahkan sekaleng wafer dan lembaran sepuluh ribuan. "Pakai nota?" tanya kasir. Laki-laki itu menjawab, tak perlu. Struk pun dimasukkan kawannya yang kasir itu ke laci. Tanpa ditanya, laki-laki itu menerangkan kepada sang kasir, bahwa dirinya mulai mencicil panganan untuk diberikan ke keluarga, ponakan-ponakannya. Satu hari satu. Saya mencuri dengar percakapan antar-rekan kerja tersebut. Tak lama laki-laki itu bergegas, saya hanya melihat punggungnya menjauh, ia berlari ke arah truk barang yang baru tiba. Saya mencuri lihat dari ekor mata. Hari itu sebagian orang sudah mulai bekerja dari rumah alias work from home , tapi orang tadi tidak. Saya menduga ia bekerja di bagian pengantar barang-barang untuk sebuah supermarket, atau yang mengangkut dus-dus berisi makanan ke ruang persediaan? Saya tak tanya detail juga, hanya mengira-ngira. Tak perlu waktu lama buat saya untuk jadi bap...

Tersinggung

Gambar
Status ketersinggungaan itu berbeda. Konon, semakin seseorang merasa derajatnya tinggi maka ia kian mudah tersinggung. Ada yang bilang ke saya, karena itu mengapa sebagian pejabat, pengusaha juga orang kaya yang lebih sering melaporkan orang dengan pasal penghinaan atau pencemaran nama baik. Memang belum ada data pasti, tapi serampangan saja dilihat, saya setuju dengan itu. Diam-diam saya membatin, iya juga sih ya. Dan lagi, kata K, orang yang mudah sekali marah biasanya justru mereka yang enggak bisa menunjukkan kompetensinya. Yaaaa, K bisa jadi salah. Saya jadi bercermin atas obrolan dua hal di atas itu. Apakah saya termasuk orang yang suka merasa terhina terhadap perlakuan orang lain? Apakah saya mudah tersinggung? Dan, apakah betul ketersinggungan saya itu ada kaitannya dengan ketidakmampuan saya membuktikan kompetensi saya? Saya, pernah sih tersinggung. Tapi tidak sering. Biasanya lebih tersinggungnya bukan sama obrolan antar-kawan, tapi sama atasan yang merendahkan atau...

Jawabanmu dan Keinginan Orang Lain

Gambar
Apa yang membuat orang yang membosankan di mata banyak orang, mendadak menarik bagimu? Karena kamu belum sungguh-sungguh mengenal dia? Kenapa pertanyaanku selalu kamu jawab dengan bertanya balik. Kebiasaan. Okei. Itu karena kamu belum mengenalnya. Berkenalan lah dulu. ***** Jawaban saya, ia balas dengan dengusan. Betul belaka, apapun yang keluar dari mulut saya tak akan membuatnya puas. Buktinya, pertanyaan yang saya ganti kemudian dengan pernyataan toh bukan jawaban yang dia inginkan. Padahal niat saya menjawab dengan pertanyaan adalah membuka kemungkinan lain, mengajak dia berdiskusi. Mencari banyak pilihan jawaban. Ya--kalau dia mengaku sudah kenal betul dengan saya, mestinya dia paham pertanyaan itu adalah basis jawaban saya--untuk menghadirkan, memancing kemungkinan jawaban lain. Dan begitulah obrolan dengan saya yang kelak akan disebut jadi pokok-pokok yang rumit. Kadang-kadang terbesit oleh saya, ada kalanya orang bertanya, barangkali bukan untuk mendapatk...

Mengamati Juru Kamera

Gambar
Ia menemui beberapa tamu yang hari itu datang ke peluncuran buku kumpulan fotonya di sebuah kafe. Kakinya berpindah dari satu meja ke meja lainnya. Malam itu ia mengenakan baju jambon, kerahnya agak berantakan—terangkat salah satu sisinya, kancingnya dibuka dua. Kemeja itu ia masukkan ke celana bahan, paduan pastel. Sepatu pantofel gaya vintage ia pilih hari itu. Rambutnya yang tak gondrong tersisir rapi, seperti biasa. Kalau saja lengan bajunya tak pendek, barangkali sekilas ia sudah tampak seperti manajer sebuah perusahaan, para penawar MLM atau, setidaknya tim marketing lah. Karena lengan panjang membuat tato-tato di lengannya tak kelihatan. Mata saya tak bisa berhenti mengikuti gerak tubuhnya. Ia menyapa semua tamu, kecuali meja saya. Satu per satu ditemuinya. Sesekali kepalanya dimiringkan, kadang ia juga menunjukkan ekpresi kaget, mengangkat bahunya, lantas menyungging. Tapi ujung-ujung bibirnya itu tak henti membentuk huruf U, malam itu ia begitu sumringah. Sebelu...

Pesan Ibu

Gambar
Selain mawas diri, ibu meminta saya untuk cakap menitipkan diri. Setiap kali menginap atau menumpang di rumah saudara ataupun kawannya atau juga kawan saya; ingat jangan bangun siang-siang, begitu kata ibu. Selanjutnya, kalau melihat ada yang berantakan, lekaslah bereskan. Kalau melihat ada yang di dapur, ikutlah bantu memasak. " Isuk tangi langsung nyapu, nek piringi rusoh dikorahi. (Artinya: Bangun pagi langsung menyapu. Kalau ada piring kotor langsung dicuci)," salah satu ucapan rutin ibu setiap tahu saya sedang menumpang tidur. Di rumah sendiri, saya lebih sering bangun siang. Tapi tetap saja, setiap kali subuh tiba suara ibu secara intens meneror saya sampai saya benar-benar beranjak dari kasur. Setelah salat, saya boleh tidur lagi. Tapi biasanya setengah tujuh saya mengantar ibu ke sekolah. Kalau hari itu malas, maka saya akan tidur-tiduran lagi pukul 10 sampai pukul 12, setelah menyapu dan beberes. Begitulah rutinitas selama pulang kampung. Ibu juga berpesan, ag...

Hindari Bertele-tele

Gambar
Meskipun ini bukan tahun baru, tapi saya ingin mengukuhkan sebuah tekad--kalau emoh disebut resolusi. Jumat dini hari ini tiba-tiba terpikir sesuatu: menulislah lebih ringkas, ika. Saya, terbiasa menulis panjang dan bertele-tele dan lalu ingin menceritakan banyak hal dan bisa saja jadi hilang fokus dan menjemukan dan mungkin juga beberapa tidak relevan atau tidak penting. Segala hal yang saya sebut di atas dalam satu kali napas itu ingin saya enyahkan--ya atau kalau kelewat sulit dicapai, yamungkin katakanlah, ditekan. Saya, perlu menyampaikan sesuatu dengan lebih ringkas. Kalau dalam Microsoft Word, 1000 karakter itu maksimal. Syukur-syuku bisa di bawah 900 atau 800 karakter. Tapi ingat, tanpa mencabut nyawa yang hendak diceritakan. Dan, tetap menarik disimak dong tentunya. Tak semua orang punya banyak waktu luang untuk mendengarkanmu--atau membaca tulisanmu, karena itu ceritakan saja seperlunya.

Di Sebuah Gang Setelah Turun dari TransJakarta

Air mengalir dari tiap pojok mata saya, begitu saja, ketika Don't Think Twice milik Bob Dylan melaju di kuping. Saya ingat, saat itu sedang memikirkan hal lain. Belum sampai otak saya rampung merunut apa gerangan alasan, air-air itu pelan tapi pasti melewati hidung dan pipi, ingatan lalu terlempar ke Senin sore 17 Februari--beberapa hari sebelum hari ini. Ketika itu hal serupa juga terjadi. Saya melewati gang-gang menuju rumah sewa, gerimis turun, saya mengeluarkan payung, membentangkannya untuk melindungi kepala dari air, kaki terus lempang menyusur aspal yang warnanya kelihatan lebih tua karena basah, mata saya terus-terusan memandangi ujung-ujung sepatu, sedang jemari beberapa kali mengusap air sebelum melewati pipi, telunjuk kadang masuk ke celah kaca mata yang saya kenakan. Saya mudah sekali menangis. Menyebalkan.

Merasa Bersalah

Gambar
Saya mengenal beberapa orang, tidak dekat memang. Tapi cukup kenal dan, kami saling tahu. Saya ingin peduli dan membantu mereka, semua. Tak terkecuali. Tapi ternyata daya dan kuasa yang saya punya tak mencukupi. Dan seorang kawan pernah mengingatkan setengah berseloroh, bahwa kita--atau saya--bukanlah resi ataupun nabi. Di saat seperti itu--tak bisa membantu dan seperti tak bisa melakukan apa-apa--rasa bersalah mampir lalu menetap. Beberapa orang yang saya kenal itu mungkin tak memahami ketakberdayaan dan jangkauan kuasa saya. Sehingga sebagian menuntut lebih, sebagian lain mungkin tak peduli. Apapun itu, saya berpikir tak perlu menjelaskan ketakberdayaan saya juga di tengah semesta raya ini. Seorang mbak-mbak senior pernah bilang ke saya, ngapain kamu mikirin orang-orang itu. Menurut dia, sebenarnya orang-orang itu pun tak benar-benar mengharapkan saya. Kata dia, biarkan saja yang begitu itu. Saya menjawab pernyataan mbak-mbak itu dengan: o iya ya. Meski sebetulnya saya ta...