Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Setelah Hampir 2 Jam Percakapan

Gambar
Saya baru saya ngobrol dengan kawan saya melalui sambungan telepon. Hampir dua jam. Membicarakan banyak hal, sampai-sampai saya lupa. Tapi satu hal, dia meminta saya menuliskan apapun yang ada di pikir, lantas memaknainya. Saya lalu bertanya, memaknai itu seperti apa? "Ya nulis aja, terus dimaknai." Ia menjawab dengan pernyataan yang sebetulnya masih tak saya mengerti. Jadi lah, begini saja. Saya menulis apapun yang sedang lintas di otak. Belakangan, mungkin sekitar dua pekan belakangan saya merasakan pikiran saya berjejal. Tapi tidak tahu itu apa. Biasanya saya pandai mengurai, tapi kali ini tidak. Seperti ada yang tertahan dan, tak ingin saya ketahui. Saya ingin cerita, tapi saat bicara, yang keluar adalah kalimat yang lompat-lompat yang salah-salah justru tak dipahami lawan bicara. Sering sekali begitu. Setelah menuliskan, atau hanya mengingat-ingat sesuatu di sela saya minum kopi atau es milo atau es nutrisari atau es apapun juga, tiba-tiba saya menangis. Ai...

Teman Sarapan

Gambar
Saya sedang merampungkan membaca kumpulan cerita pendek sembari menandaskan kopi hotel--yang tentu rasanya tak keruan--ketika Ongen menghampiri. "Sarapan dulu, Bung. Ngopi." Lelaki usia 40an itu tak langsung duduk, ia menuju meja prasmanan. Kembali ke meja saya, dengan sepiring nasi juga lauk. Pagi itu saya tak sarapan, tak biasa sarapan memang. 30 menit pertama obrolan kami hanya basa-basi dan seputar apa saja rencana hari itu. Hingga ia bertanya tentang asal saya. Lalu mengetahui bahwa saya perantau. Dan selanjutnya, karena saya mengenakan jilbab, tentu ia menganggap saya merayakan lebaran. Di situlah mula kami bercerita soal lebaran, soal konflik--yang kemudian digiring ke arah antar-pemeluk agama--pada 1998 hingga, ketakutan anaknya mengetahui kebenaran demi kebenaran. Kebenaran memang saringkali menyakitkan, menjengkelkan, kelewat pait buat diterima. Tapi begitulah. Ia lantas mengisahkan, Ambon, kota kelahirannya itu tak seseram bayangan para pendatang. Mesk...

Pamrih dan Ketidakpedulian

Gambar
Kenapa ada sebagian manusia yang memilih baru mau peduli, ketika dia ditimpa masalah? Atau, ketika persoalan itu ada hubungannya dengan kepentingan dirinya. Kalau tidak, ya maka sikap pura-pura tidak tahu atau tak ambil pusing menjadi jalan yang dianggap paling tepat. Padahal kan, saat masalah itu tak secara langsung terjadi atau menimpa dirinya, bukan berarti ia terbebas dari masalah serupa di kemudian hari nanti kan? Ada yang beranggapan ketika sebuah persoalan itu tak langsung menimpanya, seakan-akan badai itu tak jua bakal mampu menerjang mereka kelak. Sedang ketika tiba kelak giliran ia yang berperkara, lalu ia bakal kelimpungan mengiba kepedulian orang lain. Busuk betul. Sebenarnya saya tak suka manusia jenis ini, tapi kadang kasihan--kalau tak boleh menyebut tak punya pilihan--untuk tak meladeni mereka. Meski sebetulnya kata seorang kawan, saya punya pilihan untuk itu--dengan kata lain, menolak. Seorang lelaki--yang dulu sering saya dengar pendapatnya--berkali-kali...

Rencana

Gambar
Dalam perjalanan atau, saat jeda beranjak dari satu tempat ke tempat lain, biasanya permenungan dimulai. Saya, seringkali mendapati momen itu di tengah lengang jalan--atau rapat kendaraan. Mengendapkan yang sudah-sudah. Menekuri rangkaian detail yang tumpang-tindih. Sebelumnya saat di teras rumah, di tengah saya menyapu tegel kuning halaman, tiba-tiba saya takut kehilangan keluarga dan, hidup sendiri. Tak jelas muasal perasaan itu. Dan kenapa pula saat menyapu teras sore hari. Kemudian setelah itu, jadi terpikir, apa perlu segera menentukan tujuan yang jelas. Mematok pulang. Yang akan selalu jadi sesuatu yang dituju, untuk kembali dan, merestart diri. Saya lalu sadar, hingga kini belum memilih atau menentukan tujuan itu. Hidup selama ini berjalan nyaris tanpa rencana. Itu sebabnya ketika ada kawan yang bertanya: rencanamu apa? Saya tak pernah bisa menjawab--kalau bukan malas. Tapi itu betulan saya belum memikirkan rencana. Barangkali ini bikin jengkel orang di sekitar ...

Bagaimana Mengucap La Vita e Bella

Gambar
Bapak lahir dua hari sebelum tahun baru, 30 Desember. Tanggal lahir dan tahun baru, keduanya sama-sama biasa digunakan sebagian orang untuk mematok mula harapan. Lantas mengukur pencapaian-pencapaian. Beberapa orang menggunakan waktu-waktu itu sebagai penanda. Tapi seingat saya, bapak tak memakai keduanya. Ia menghikmati setiap hari. Pernah saat mengunjungi saya di asrama, ia menitip pesan, agar saya tetap eling akan waktu yang melingkupi manungsa. Mengenang bapak, sebetulnya yang saya dapati adalah sosok yang, seperti tak punya gairah. Alon ritme hidupnya, tampak selo. Kondisi yang--belakangan saya tahu--kadang bikin ibuk bete. Hehe. Kalau tahun ini ia masih hidup, enam bulan lagi usianya 62. Sudah bertahun saya tak lagi menulis surat saban tiba tanggal mangkatnya bapak, atau juga tanggal lahirnya. Saya tak paham betul apa sebab. Boleh jadi karena saya tak lagi menganggap penanda waktu itu sakral. Atau, karena kehilangan yang umurnya sudah sedasawarsa ini telah mengendap da...

Something

Gambar
Pernahkah kamu menghadapi pertanyaan: apakah rasa sayangmu padaku akan bertambah, atau sebaliknya? Dengan apa semestinya kita menjawabnya? Cukup dengan gelengan kepala atau, mengangkat kedua bahu? Yang terpikir dan, rasa-rasanya saya akan menjawab dengan salah satu lagu The Beatles ciptaan George Harisson, Something. Bunyinya begini: You're asking me will my love grow, i don't know ooooh i don't know. Kalimat yang cukup mewakili, meski boleh jadi juga tidak mendekati jawaban sesungguhnya. H H H. Tapi baiklah, saya tak bakal tahu rasa cinta atau juga kasih itu kian hari akan semakin berkembang biak atau justru menyusut. Karena itu jawaban i don't know hooo i don't know bisa jadi pilihan. Terlepas dari, segala pertanyaan akan kelihatan mudah jika dijawab dengan: tidak tahu selain juga, lupa. Beteweh, sesungguhnya lagu besutan gitaris Beatles itu katanya ditujukan buat yang ia imani. Kala itu George sedang menekuni 'Kesadaran Khrisna'. Tapi agak jang...

Gunarti

"Kami belum kalah. Andaikan kami takluk sekalipun, masih ada kuasa Ibu Bumi. Jika Kehormatan alam semesta ini dijamah lewat pendirian pabrik semen, alam akan bertindak sendiri. Bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo membuktikan Ibu Bumi murka, karena seharusnya dia dirawat agar jadi gemah ripah loh jinawi." Begitulah jawaban Gunarti ketika jurnalis Majalah Tempo bertanya mengenai, apakah sikap pemerintah yang seolah memberikan lampu hijau untuk pembangunan pabrik semen merupakan bentuk kekalahan warga Kendeng? Perawakannya memang kecil, tapi soal nyali—apalagi kalau sudah menyoal Ibu Bumi—tak perlu diragukan lagi. Energinya seolah tak habis untuk terus menyuarakan penolakan terhadap tambang dan pabrik semen di Jawa Tengah. Ia ikut mulai dari aksi damai di depan kantor-kantor pemerintahan hingga jalan kaki sejauh ratusan kilometer. Ia, juga hampir pasti selalu hadir ketika ada aksi menagih janji di depan Istana Presiden. Sosok perempuan yang selalu berkebaya setelan d...

Es Krim

Gambar
K pernah bilang, "Kalau kondisi hatimu sedang buruk, maka cobalah makan es krim." Saya mengikuti saran K. Sebelumnya sudah pernah menjajal dan, berhasil. Tapi kali ini tidak begitu. Semangkuk berisi empat scoop--campuran berry, cokelat pekat, krim keju dan green tea--tandas, namun perasaan masih kacau. Sebetulnya yang saya santap itu bukan es krim, melainkan gelato. Teksturnya sedikit lebih pekat, lebih lengket dan, rasanya lebih kuat. Tapi bukan ini masalahnya, sebab saya bukan penggemar es krim garis keras maka selayaknya indra penyecap pun tak bakal mempersoalkan perbedaan antara es krim dan gelato tersebut. Terasa sama saja. Yang pasti, semangkuk krim dingin itu tak manjur mengatasi hati yang sedang remuk. Saya ingin mengirim pesan ke K, berkeluh. Tapi urung, saya lihat dia sedang bersenang-senang dengan kelas sketsanya dan, saya tak ingin mengganggu. Saya merasa bisa mengatasi ini sendiri, meski sedikit ragu. Tak seperti yang saya bayangkan, saya kira segalanya...

Dengan Apa Semestinya Kita Mengisi Ruang-Ruang Intim?

Gambar
Saya merasa angin Jakarta tak bersahabat di kulit, bukan perkara banyak asap dan printilannya itu. Tapi berasa nggak pas saja, mungkin tersebab peralihan cuaca, mungkin juga karena tubuh sedang tak sesehat biasanya. Saya sedang dalam kondisi yang, dalam Bahasa Jawa disebut: gemreges. Bapak-bapak melintas, jalannya pincang, di bahu kirinya melintang sebuah kayu yang menanggung beban dua kotak pada masing-masing ujungnya. Mas-mas berkumis yang, kaos dan sepatunya berkelir senada hijau toska menata snare drum, cymbal, juga piranti lain di sudut sebuah warung kopi. Mas-mas lain terlihat menyunggi nampan, mengantar pesanan ke meja-meja pelanggan. Dalam perjalanan sebelum sampai ke warung kopi ini, ketika melintas di Jalan Kwini kawasan Senen Jakarta, saya bersisian dengan iring-iringan pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1. Sesaat sebelum sampai ke warung kopi langganan ini, saya juga menyempatkan singgah ke kios babeh di seputaran Menteng dan, dari tempat...

Tidur dan Ngobrol

Gambar
Dua hari ini adalah waktu terlama saya tidur. Apakah bisa dibilang hibernasi ya? Karena sepertinya saya tidur lebih dari 12 jam. Rasa-rasanya ini tidur terlama selama tinggal di ibukota. Antara kelelahan dan malas, yang jelas, bangun-bangun saya pusing. Lalu niat mencuci baju berakhir dengan membawanya ke laundry, karena sejam setengah lagi--terhitung sejak saya bangun tidur--saya mesti menepati janji dengan seorang kawan. Seperti halnya janji-janji saya ke kawan lain, saya menodainya dengan keterlambatan. Hehehe. Tapi seenggaknya tak sebagaimana janji sebelumnya yang mesti molor sedikitnya tiga jam. Ini kali saya telat 21 menit. Meski begitu tetap saja, pas sampai di lokasi kami berjanji, sang kawan sudah tidak di tempat. Ha ha ha. Kami berjanji bertemu di pusat Jakarta. Saya tak punya ekspektasi apa-apa dari pertemuan itu, hanya ingin ngobrol dan berbagi cerita setelah nyaris dua-tiga tahunan tak bertemu. Rupanya betul kata pepatah lama, kita tak perlu berekspektasi dalam hid...

Menunggu Hujan

Gambar
Segenggam biji lintong digiling dengan mesin harga jutaan Rupiah. Tak seperti grinder saya yang, 200 ribu saja tak sampai. Saya membatin. "Kenapa?" si penggiling kopi bertanya, tak sadar, rupanya bibir saya menyungging. "Nggak papa, hanya memikirkan sesuatu yang nggak penting." Biji kopi dari Sumatera itu disangrai medium, sehingga warnanya pun tak hitam, lebih ke cokelat gelap. Ia tak tahu, saya suka sangrai level ini. Biji kopi lintong di toplesnya memang kebetulan saja sangrai medium. Entah kapan mulanya, tapi saya memang tak begitu bisa menikmati kopi sangraian gelap atau biasa disebut dark. Meski katanya, orang-orang yang hidup di Eropa bagian timur sana lebih suka sangraian gelap. Saya juga dari wilayah timur sih, tapi Jawa Timur. Hehe. Tidak lucu. Bagi saya, kopi yang tak gosong lebih mungkin mengeluarkan rasa beragam. Tapi teori yang sebetul-betulnya seperti apa, saya tak tahu pasti. Semua hanya berdasar pengalaman saya mencecap, tak lebih. Bertahun ...